Hari Ini:19 May, 2021

Kisah Perjuangan Equinox di Tanah Kelahiran IESO

Halo, Sobat Edufia! Lagi-lagi, siswa Tanah Air berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dalam ajang International Earth Science Olympiad yang merupakan olimpiade internasional bidang kebumian. Tahun ini merupakan IESO ke-13 semenjak pertama kali diadakan pada tahun 2007 di Daegu, Korea Selatan.

Tahun ini, IESO kembali diadakan di tanah kelahirannya loh, dan berlangsung pada tanggal  26 Agustus sampai 3 September 2019.  Ada 4 jagoan dari Indonesia yang berhasil menorehkan prestasinya, siapa aja sih orangnya? Yuk, kita kenal lebih dekat dengan mereka!

Yang pertama adalah Karina Imani dari SMAK IPEKA Sunter yang berhasil meraih medali perak pada ajang ini. Prestasi yang sama juga ditorehkan oleh Handi Halim yang berasal dari SMAK Immanuel Pontianak. Begitu juga dengan Muhammad Eko Akbar Heriyanto dari SMAN 1 Salatiga yang juga meraih medali perunggu bersama dengan Ivan Muhammad Mahendra asal MAN Insan Cendikia Gorontalo.

Tidak hanya itu, dari kategori tim, teman kita Eko dan Ivan berhasil meraih emas dan perak untuk kategori ESP. Dan pada kategori ITFI, Ivan berhasil meraih medali perak dan Handi membawa pulang perunggu.

Tapi gimana sih suka-duka, jatuh bangun, dan cerita seru mereka? Nah maka dari itu, kita udah ngerangkum hal-hal yang terkenang dari para jagoan ini. Gimana ceritanya ya??

Yang pertama, PELATNAS! Oh iya sebelumnya, Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia, atau biasa disingkat TOIKI pada tahun 2019 memiliki nama Equinox. Mereka adalah 30 medalis OSN Kebumian 2018 yang bertemu bersama untuk meraih medali internasional. Mereka bahkan punya ig sendiri loh, @toiki19, kelihatan banget kekompakan mereka selama pelatnas. Jangan lupa di follow, hihi!

“Hmm… sukanya pas di pelatnas, tuh, dapet keluarga baru. Kan kita 30 orang medalis OSN dikumpulin di hotel selama sebulan buat pelatnas. Otomatis hubungan makin erat, jalanin semua pelatihan bareng-bareng selama sebulan. Dari pagi sampe sore merhatiin dosen bicara, kadang diskusi, kadang ngerjain tugas yang banyak banget dan susah, persiapan buat tes, post test , pre test, praktikum, semuanya,” jelas Ivan kepada Edufia.

Meskipun kelihatan berat dalam masa pelatihan, Toiki 2019 ini juga diberi waktu untuk refreshing, kok! Saat weekend mereka akan berjalan-jalan bersama untuk menonton film dan melakukan kegiatan lainnya. Namun, di balik kesenangan itu, mereka juga harus menghadapi hal menyedihkan, yaitu penyaringan atau yang bisa disebut eliminasi.

“Nggak enaknya, di setiap akhir pelatnas harus ada tes penyisihan yang akan menyaring beberapa orang buat lanjut ke pelatnas berikutnya. Sebagian gugur. Itu sedih,” ujar Ivan dalam wawancaranya.

Oh iya buat yang belum tau, lokasi pelatnas kebumian itu di Jogja, loh. Yang uniknya lagi, saat pengumuman Pelatnas 3 siapa yang terpilih untuk berlaga di IESO, delapan perwakilan siswa Pelatnas 3 akan dibawa keluar wisma pada malam hari. Byur! Yang lolos akan disiram air! Nggak kebayang, saat jantung berdetak kencang di udara yang dingin, malah tiba-tiba disiram air. Di sini lah terpilih 4 orang yang akan mewakili Indonesia maju ke IESO.

Mereka mendarat di Korea Selatan pada (26/08) pagi di Bandara Incheon dan harus melanjutkan perjalanan lagi ke Kota Daegu, tempat diselenggarakannya IESO. Terdapat beberapa kegiatan sebelum dimulainya kompetisi, salah satunya peserta akan diberikan orientasi terkait Earth Science Project (ESP) yang sifatnya beregu. Selain tiu, ada geological excursion dan orientasi tes tertulis.

Tes tertulis dimulai pada (29/08), terdapat empat paket soal yang harus dikerjakan dalam waktu 6 jam. Setelah tes tertulis selesai, keesokan harinya mereka akan dipertemukan dengan tes praktek yang tempat penyelenggaraannya dibagi menjadi dua tempat tes berbeda. Pembagian tempat tes tersebut adalah tiga tempat di pegunungan dam tiga lagi di laboratorium yang meliputi hidrologi, meteorologi, dan petrologi.

“Malamnya ada orientasi ITFI atau International Team Field Investigation yang sesuai namanya juga (memakai) sistem beregu. Kami pergi ke 3 tempat di Gyeongsang Basin untuk mengumpulkan data yang digunakan untuk menentukan paleoenvironment dan bagaimana perkembangan Gyeongsang Basin dari cretaceous sampai present,” cerita Handi soal ITFI yang digelar pada (31/08).

Setelah rangkaian IESO yang begitu panjang nan melelahkan, masuklah ke tahap pengumuman pada (02/09). Mereka pasti gugup sekali menunggu penguman dari hasil kerja keras mereka selama pagelaran IESO di Korea Selatan.

Sobat Edufia, pernah mendengar kalimat ‘usaha tidak akan mengkhianati hasil’? Ungkapan itu benar, loh! Indonesia berhasil meraih total 1 emas, 4 perak, dan 3 perunggu. Keren banget, ya!

Salah satu anggota IESO berkesempatan utnuk memberi kesan dan pesannya ke Edufia, yaitu Athaya Qasamah Jauhari, “Kepada timnas IESO 2019, selamat sudah menunaikan tugas kalian dengan baik! Gue tau banget perjuangan kalian kayak gimana dari awal pelatnas. You guys deserved it! Se-Indonesia bangga banget sama kalian!”

Penulis: Irhasy Muhammad Maulad
Editor: Putri Indy Shafarina

Share

One Comment

  1. vurtilopmer Reply

    I’m often to running a blog and i actually recognize your content. The article has really peaks my interest. I’m going to bookmark your web site and keep checking for new information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!