Hari Ini:23 February, 2021

Yuk, Cari Tahu Tentang PCR!

Halo, Pejuang Prestasi!

Selama masa pandemi Covid-19, pasti teman-teman sudah tidak asing lagi dengan istilah PCR. Namun, sebenarnya PCR itu apa sih? Untuk mengetahui lebih lanjut, yuk simak artikel ini!

Polymerase chain reaction, biasa disingkat menjadi PCR, adalah metode bioteknologi yang digunakan untuk mengamplifikasi atau memperbanyak sampel materi genetik (DNA/RNA) dalam waktu yang singkat. Teknik PCR ini sudah sering digunakan dalam bidang forensik, loh. Misalkan, suatu sampel DNA ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) suatu kejahatan. Kuantitas sampel DNA yang ditemukan mungkin kurang cukup untuk dianalisis lebih lanjut. Namun, dengan adanya teknik PCR, sampel tersebut bisa diperbanyak sesuai kebutuhan sehingga dapat dianalisis.

Bagaimana cara kerja teknik PCR?

Schematic drawing of a complete PCR cycle
Ilustrasi prinsip kerja PCR (Sumber: Wikipedia)

Teknik PCR terdiri atas siklus-siklus yang dilakukan secara berulang. Dalam satu siklus PCR, terdapat tiga tahapan:

1. Denaturation

Denaturation adalah tahap pemanasan untuk memisahkan untaian DNA sample. DNA merupakan molekul beruntai ganda dengan kedua untai yang saling mengikat. Pada tahap ini, tabung reaksi dipanaskan dengan suhu tinggi agar ikatan antaruntai terpecah dan kedua untai DNA pun terpisah.

2. Annealing

Setelah kedua untai DNA terpisah, suhu reaksi diturunkan. Tahapan pendinginan ini bertujuan agar primer dapat menempel dengan untai DNA sample. Primer adalah fragmen DNA/RNA pendek yang berperan dalam inisiasi sintesis molekul DNA. Dengan menempelnya primer ke untai DNA, proses sintesis DNA berlanjut ke tahapan berikutnya, yakni extension atau elongation.

3. Extension atau Elongation

Pada tahap ini, suhu reaksi dinaikkan kembali setelah primer menempel ke untai DNA. Taq DNA polymerase, enzim tahan panas yang berperan dalam sintesis DNA, akan menambahkan nukleotida (monomer dari DNA) sehingga memperpanjang primer. Pada akhirnya, untaian DNA pun akan bertambah panjang.

Siklus ini umumnya berulang sebanyak 20-40 kali, tergantung dengan panjang molekul DNA yang disalin.

Bagaimana tes PCR mampu mendeteksi Covid-19?

Pada awalnya, sampel diambil dari dahak atau lendir pasien yang diduga terpapar Covid-19. Covid-19 adalah virus RNA, materi genetik yang diisolasi dari sampel berupa molekul RNA. Kamu mungkin bertanya-tanya apakah teknik PCR bisa digunakan juga untuk molekul RNA. Jawabannya adalah iya! Namun, prosedur PCR untuk RNA membutuhkan komponen penting, yaitu enzim reverse-transcriptase. Enzim reverse-transcriptase ini berperan untuk mengubah sample RNA menjadi DNA. Setelah dikonversi menjadi DNA, sample bisa diamplifikasi sesuai dengan cara kerja PCR.

Sementara amplifikasi DNA berjalan, suatu fragmen penanda atau marker genetik virus akan berikatan dengan untai DNA. Marker virus berikatan dengan untai DNA yang memiliki sekuens yang cocok. Terikatnya marker virus dengan untai DNA akan menghasilkan pendaran atau fluorosens. Nah, jika tingkat fluorosensi di atas level tertentu, maka artinya pasien positif terinfeksi Covid-19.

Sekian penjelasan singkat tentang PCR dari saya. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan teman-teman terkait PCR dan pengaplikasiannya dalam deteksi Covid-19.

Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Penulis: Rizqi Najla Humaira
Editor: Putri Indy Shafarina

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!