Hari Ini:22 February, 2021

Climate Apartheid: Dari Floyd Sampai Perubahan Iklim

Rasisme dan diskriminasi ternyata tak hanya ada di ruang lingkup sosial semata ia juga hadir dalam ruang lingkup perubahan iklim. Rasisme memang harus diberantas, tetapi untuk memberantasnya kita harus kenal terlebih dahulu bentuknya.

Climate apartheid terjadi ketika kelas pekerja mendapat dampak yang lebih serius daripada kelas pemodal dari perubahan iklim global.

Halo, Pejuang Prestasi! Nyadar nggak sih kalo perubahan iklim dunia kian hari semakin parah? Global warming semakin nyata dampaknya. Ada fakta baru tentang konsentrasi karbondioksida sebagai salah satu gas rumah kaca indikator peningkatan global warming. Dari data yang dihimpun oleh Observatorium Mauna Loa, Hawaii, indikator CO2 di atmosfer bumi menunjukkan peningkatan yang signifikan akhir-akhir ini. Walaupun peningkatan ini terjadi karena adanya anomali sirkulasi di troposfer Bumi, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ini adalah salah satu dampak jangka panjang dari adanya perubahan iklim. Belum lagi, intensitas kemunculan siklon tropis di Samudra Hindia bagian utara yang meningkat akhir-akhir ini, seperti Amphan, Mangga, dll. juga jadi salah satu indikatornya.

Berbicara tentang dampak dari perubahan iklim, meskipun dampaknya dirasakan secara global, tapi hal tersebut akan menimbulkan kerugian yang tak setara, loh! Perbedaan kerugian ini terjadi antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Hal inilah yang dinamakan sebagai Climate Apartheid atau diskriminasi dampak perubahan iklim global. Jadi, maknanya kurang lebih sama dengan tindakan-tindakan diskriminasi rasial lainnya, seperti pada kasus apartheid di Afrika Selatan pada abad ke-20 atau pembunuhan George Floyd di Amerika Serikat baru-baru ini.

Tapi, mengapa ya bisa terjadi fenomena climate apartheid? Bukannya rasisme hanya ada di kehidupan sosial masyarakat semata? Lalu apakah perbedaan kelas ekonomi pengaruh ya sama dampak perubahan iklim? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Illumina akan menjelaskan soal siapa dan kegiatan apa yang menyumbang karbon paling banyak ke atmosfer. Kita semua tahu, kalau karbondioksida itu agen pemanasan global yang paling besar dan intensif pengaruhnya bagi perubahan iklim global.

Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Global dari Sektor Ekonomi

(Sumber: https://www.epa.gov/ghgemissions/global-greenhouse-gas-emissions-data)

Dilansir dari situs resmi US Environmental Protection Agency, 25% emisi gas rumah kaca global dihasilkan oleh aktivitas penghasilan energi listrik di urutan pertama. Di urutan kedua, aktivitas agrikultur menyumbang 24% dari total dan di urutan ketiga terdapat aktivitas perindustrian yang menyumbang 21% total emisi gas rumah kaca dunia. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa emisi gas rumah kaca global terbesar dihasilkan oleh aktivitas yang melibatkan modal besar untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sementara, kita tahu bahwa modal besar tersebut hanya dimiliki oleh segelintir atau sebagian kecil penduduk dunia yang tergolong sebagai kelas pemilik modal. Kontribusi para pemodal ini sangat besar dalam mengemisikan gas rumah kaca yang efeknya harus ditanggung oleh seluruh bumi. Namun, kelas pekerja lah yang akan menanggung akibat paling serius dari aktivitas tersebut.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Sebenarnya efek perubahan iklim dari segi kesehatan dan lingkungan bagi semua orang di dunia itu sama. Namun, kelas pemodal telah meraup keuntungan yang besar dari aktivitas mereka yang banyak mengemisikan gas rumah kaca, sehingga efek buruk yang terjadi dari perubahan iklim dapat ditutup oleh keuntungan yang besar. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh kaum kelas pekerja, di mana mereka hanya menyumbang sedikit sekali emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Namun, karena mereka hanya mendapat keuntungan dari gaji yang mereka dapatkan ketika bekerja pada kelas pemodal yang tentunya kecil, mereka tak dapat menutup kerugian yang ditimbulkan dari perubahan iklim yang terjadi dan semakin memburuk di dunia.

Kesimpulannya, climate apartheid terjadi ketika kelas pekerja mendapat dampak yang lebih serius daripada kelas pemodal dari perubahan iklim global karena emisi gas rumah kaca oleh aktivitas manusia yang kebanyakan digerakkan atau dimodali oleh kaum pemodal untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, kita harus menghapus fenomena sosio-klimatik tersebut dengan menyuarakan kampanye perubahan iklim global, bukan hanya pada sesama teman tetapi juga kepada korporasi yang menyumbang gas rumah kaca besar ke atmosfer. Tanggung jawab perubahan iklim harusnya menjadi tanggung jawab semua pihak di dunia, terlebih mereka yang mengemisikan dalam jumlah besar.

Penulis: Rubens Setiawan

Editor: Putri Indy Shafarina

Sumber

https://www.theguardian.com/environment/2019/jun/25/climate-apartheid-united-nations-expert-says-human-rights-may-not-survive-crisis

https://news.un.org/en/story/2019/06/1041261

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!