Hari Ini:22 February, 2021

Artificial Eye Technology: Membantu Tunanetra Melihat Dunia

Halo, para Pejuang Prestasi! Sebagai manusia, kita terlahir umumnya dengan lima panca indera, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Namun kita juga mengetahui bahwa tidak semua orang terlahir sama, beberapa di antara kita memiliki perbedaan dalam indera penglihatan berupa tidak bisa melihat atau biasa kita sebut sebagai tuna netra. Mereka tidak bisa mengandalkan indera penglihatan mereka sehingga harus dibantu oleh berbagai macam hal, seperti tongkat, hewan peliharaan yang bisa menuntun jalan, bahkan hingga asisten pribadi.

Sejak zaman dahulu, para ilmuwan sudah berusaha untuk menciptakan benda menyerupai mata agar para tunanetra bisa melihat seperti orang-orang umumnya, namun tentu saja usaha tersebut sangat sulit. Jika kita membedah mata secara mendalam, kita akan menyadari bahwa mata adalah organ yang sangat kompleks, karena ukurannya yang kecil namun memiliki banyak sekali jenis sel otot, saraf, cairan, dan lain lain. Oleh karena itu, kerusakan pada organ mata sangat sulit untuk diperbaiki jika dibandingkan dengan organ pendengaran dan organ penciuman.

Sumber gambar: https://www.technologyreview.com/

Walaupun pada awalnya terlihat mustahil, satu tahun belakangan ini para ilmuwan sedang sangat gencar melakukan penelitian mengenai teknologi yang bisa menggantikan fungsi mata, biasa disebut sebagai artificial eye technology. Sekilas dari namanya, kita semua akan berpikir bahwa teknologi yang dimaksud adalah mata bionik yang benar-benar seperti mata pada umumnya. Namun, beberapa ilmuwan dari MIT menyatakan bahwa untuk membuat mata buatan yang hampir menyerupai mata asli saat ini masih mustahil. Karena itu, pada bulan Februari tahun 2020 ini mereka mengembangkan alternatif alat untuk melihat berupa kamera yang langsung tersambung ke otak. Percobaan ini dilakukan kepada seorang wanita berusia 57 tahun bernama Bernadeta Gomez yang telah mengalami kebutaan selama 16 tahun akibat penyakit toxic optic neuropathy.

Para ilmuwan tersebut menyusun kamera dalam bentuk kacamata yang terhubung dengan alat pengirim sinyal yang ditempelkan di bagian belakang kepala, lebih tepatnya pada daerah oksipitalis dari otak. Konsep yang ditawarkan oleh alat ini adalah langsung mengubah gambar yang ditangkap oleh kamera menjadi sebuah sinyal gambar dan dihantarkan langsung ke sistem saraf pusat agar gambar bisa langsung diproses dengan baik tanpa harus membutuhkan mata. Karena itu, rencana para ilmuwan adalah menanamkan 100 elektroda mini yang disusun berdekatan menjadi berukuran 4×4 hingga 5×5 mm persegi. Namun, karena percobaan langsung ke sistem saraf sangat berisiko, saat ini alat hanya ditempelkan saja di kepala. Percobaan dilakukan dengan perlahan menaikan tingkat resolusi kamera, dari 5×5 pixels, 10×10 pixels, hingga 100×100 pixels sambil dilakukan pengukuran aktivitas saraf optik. Hasilnya sangat memuaskan! Pada ukuran 30×30 pixels, Bernadeta sekilas mampu merasakan kilatan cahaya. Hal ini tentu menjadi awal yang sangat bagus dalam pembuatan sistem penglihatan buatan bagi manusia.

Sumber gambar: https://www.sciencenews.org/

Tidak hanya sampai di sana, pada bulan Juni tahun 2020, tim dari Universitas Sains dan Teknologi Hongkong baru saja mengembangkan bentuk aplikasi dari teknologi yang dibuat oleh tim MIT, yaitu eye spy. Eye spy ini berbentuk seperti pada umumnya, namun terdiri atas komponen lensa, pelindung aluminium, retina buatan yang terbuat dari elektroda dan sensor cahaya, serta kabel penghubung berukuran kecil. Dengan eye spy, kita sudah semakin mendekati mata buatan yang benar-benar mirip dengan mata asli pada umumnya. Semoga perkembangan dari artificial eye technology ini kedepannya semakin berkembang sehingga dapat dipergunakan secara luas.

Referensi :

  1. https://www.technologyreview.com/2020/02/06/844908/a-new-implant-for-blind-people-jacks-directly-into-the-brain/. Dikutip pada 26 Agustus 2020.
  2. https://www.sciencenews.org/article/new-artificial-eye-mimics-may-outperform-human-eyes#:~:text=Scientists%20can’t%20yet%20rebuild,time%20than%20a%20real%20eyeball. Dikutip pada 26 Agustus 2020.

Penulis: Muhammad Fairuziko Nurrajab
Editor: Putri Indy Shafarina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!