Hari Ini:12 May, 2021

Shania Rahmi, Berkompetisi Hingga IEO untuk Mama

Shania di OSN 2018, Padang, Sumatera
Sumber: Dokumentasi pribadi Shania Rahmi

Halo, teman-teman! Kali ini, rubrik alumni akan memperkenalkan alumni OSN Ekonomi 2017 dan 2018, serta peserta International Economic Olympiad pertama kali di Rusia, Shania Rahmi. Wah, bukannya biasanya enggak ada tingkat internasional untuk bidang ekonomi? Makanya, yuk, kita simak ceritanya!

Awal Perjalanan Shania

Shania memulai perjalanan olimpiadenya di bangku SMA. Shania bersekolah di MAN 2 Pekanbaru, Provinsi Riau. Di sekolahnya, Shania bergabung dalam klub olimpiade ekonomi. Ketertarikannya dengan ekonomi bermula dari kekagumannya terhadap pebisnis-pebisnis hebat dan ia ingin menjadi seperti itu juga. Shania mulai belajar dengan serius agar bisa mewakili sekolahnya dalam OSN.

Berkat kerja kerasnya, Shania terpilih untuk mewakili sekolah dalam OSN tingkat kota dan lanjut ke tingkat provinsi. Pada tahun 2017, Provinsi Riau menjadi tuan rumah untuk OSN. Dinas Pendidikan Provinsi pun mengadakan pelatihan yang cukup intensif untuk OSN tahun itu. Shania merasa sangat beruntung karena bisa belajar banyak hal baru dan mengenal OSN lebih dalam lagi. Menurutnya, ia merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan intensif dari provinsi ini. Meski awalnya sempat merasa sedih karena sering mendapat nilai tes terendah di antara peserta lain, pada akhirnya hal ini justru menjadi motivasi Shania untuk belajar lebih giat lagi. Tidak disangka, Shania berhasil lolos ke tahap selanjutnya, yaitu tingkat nasional.

Shania merasa bersyukur bisa mengikuti OSN sampai tingkat nasional di usianya yang masih kelas 10. Namun, hal ini juga membuat Shania berpikir untuk berusaha “seadanya” dan mengikuti arus saja karena tahun depan masih ada kesempatan. Ia tidak berharap apa pun untuk OSN di tahun ini. Akhirnya, hasil yang keluar pun sesuai dugaannya. Shania belum berkesempatan membawa pulang medali.

Bangkit Kembali

Saat kelas 11, Shania sadar bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mengikuti OSN. Ia sempat menyesali keputusannya menyia-nyiakan kesempatan di tahun 2017. Di tahun 2018, ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Shania belajar lebih keras untuk persiapan OSN. Perjuangannya semakin terasa karena di tahun 2018, Provinsi Riau tidak lagi mengadakan pelatihan olimpiade intensif seperti tahun sebelumnya. Shania harus memperbanyak belajar mandiri dan menurutnya, yang paling sulit adalah melawan rasa malas dari dalam diri sendiri. Namun, Shania tidak menyerah dan terus berusaha karena ia tidak ingin menyesal lagi seperti tahun sebelumnya. Shania juga memperbanyak usaha dari segi spiritual. Setiap hari, ia selalu berdoa supaya bisa mendapatkan medali emas di OSN Ekonomi tahun 2018. Shania percaya, kita harus berdoa dengan menyebutkan spesifik mimpi kita.

Alhamdulillah, di tahun 2018, Shania berkesempatan lagi untuk mengikuti OSN tingkat nasional. Tes saat OSN menurutnya sangat berkesan. Tes untuk bidang ekonomi dilaksanakan selama tiga hari. Di hari kedua, tes esai untuk bidang ekonomi dilakukan dengan komputer. Saat itu, listrik di tempat tes sempat padam dan membuatnya panik. Namun, ia tetap berusaha tenang dan banyak berdoa supaya lancar. Saran dari Shania, untuk teman-teman yang mau mengikuti OSN bidang ekonomi, harus terbiasa menggunakan komputer untuk membuat grafik, ya! Menurutnya, itu sangat penting supaya waktu yang ada bisa dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.

Setelah melalui serangkaian tes, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ya, hari penganugerahan medali. Shania merasa sangat gugup sekaligus takut kejadian tahun lalu terulang lagi. Pembacaan medali dimulai.

Perunggu… tidak ada.

Perak… tidak ada juga.

Dari lubuk hati terdalamnya, Shania tidak pernah berekspektasi untuk mendapat medali emas. Meskipun ia selalu berdoa untuk mendapat medali emas, ia merasa bahwa hal itu hanya akan menjadi mimpi untuk selamanya. Maka, Shania sangat panik dan bersedih ketika namanya tidak dipanggil di medali perak dan perunggu. Ia sudah berencana menelpon mamanya untuk meminta maaf karena merasa telah mengecewakan. Tetapi, teman satu sekolah Shania terus menenangkannya dan meyakinkan bahwa masih ada satu medali lagi yang belum dipanggil. Akhirnya,

“Medali Emas Keempat. Shania Rahmi.”

Ia merasa sangat terkejut dan terharu ketika namanya dipanggil sebagai peraih medali emas OSN Ekonomi 2018. Ia pun maju ke panggung untuk dikalungi medali dalam keadaan masih menangis.

Perjalanan Belum Berakhir

Ternyata, perjalanan Shania di olimpiade tidak berakhir sebagai peraih medali emas OSN Ekonomi saja. Ia terpilih untuk mewakili Indonesia dalam Internasional Economic Olympiad di Moscow, Rusia, bersama dua teman lainnya. Acara ini merupakan olimpiade internasional pertama kali untuk bidang ekonomi. Jadi, bisa dibilang, belum ada bayangan akan seperti apa soal-soal yang keluar, bagaimana pelaksanaannya, dan segala hal tentang olimpiade ini.

Persiapan yang dilakukan sangat singkat dan menguras tenaga. Setiap hari, ia belajar dari pagi sampai malam. Karena tingkat internasional, sangat banyak materi yang baru dan sangat sulit bagi Shania. Di tahap ini, Shania sempat kehilangan motivasi karena merasa tidak pantas dan tidak bisa. Namun, ia mengingat kembali bahwa ini merupakan amanah negara, jadi ia berusaha semaksimal mungkin.

Hari-hari yang sulit berlalu dan tibalah waktu keberangkatan. Shania merasa bersyukur karena di sana, ia bisa bertemu orang-orang hebat di bidang ekonomi dari seluruh dunia. Ia bahkan bertemu peraih nobel di bidang ekonomi. Ketika mengerjakan tes, ia sempat terkejut karena soal yang diujikan lebih mudah dari soal OSN. Namun, karena selama pelatihan ia mempelajari hal yang lebih rumit, ia menjadi lupa tentang hal-hal yang dasar. Ia pun merasa kesulitan dalam mengerjakan soal tes sehingga tidak mengekspektasikan medali.

Ketika medali diumumkan, sesuai dugaannya, ia belum bisa membawakan medali untuk Indonesia. Ia masih bersyukur karena salah satu temannya berhasil membawa pulang medali perunggu untuk Indonesia.

Untuk Mama

Dari semua yang dilakukan Shania untuk berprestasi di OSN maupun olimpiade internasional, motivasinya satu: untuk membanggakan orang tuanya, terutama mamanya. Shania dan keluarganya sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidup yang membuat mamanya bersedih cukup lama. Oleh karena itu, Shania berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membuat mamanya tersenyum bahagia dan bangga atas prestasi yang ia buat. Pesan dari Shania untuk teman-teman yang mungkin ada di kondisi yang sama dengannya, “Jangan menyerah dengan hidup yang buruk. Hal buruk yg terjadi di dalam hidup enggak bisa dijadiin alasan untuk berbuat kenakalan dan hidup dengan buruk. Justru sebaliknya–karena tau rasa sakit dalam hidup, seseorang seharusnya berjuang untuk meraih kebahagiaan dan berusaha mendapatkan hidup yang lebih baik.

Penulis: Luthfiyah Yasmin
Editor: Athira Marsya Khairina

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!