Hari Ini:21 February, 2021

Eko, Medalis OSN Kebumian 2018 dan 13th IESO 2019: “Dulu Sukanya Geografi”

Eko Si Medalis Perunggu IESO 2019
Sumber: Dokumentasi pribadi Muhammad Eko Akbar Heriyanto

Halo, Sobat Ilumina! Kali ini, kita akan berkenalan dengan salah satu peraih medali perunggu OSN Kebumian 2018 dan medali perunggu 13th IESO 2019 Daegu, Korea Selatan, lho! Keren banget, ya? Bagi sobat-sobat sekalian, khususnya para pejuang KSN kebumian, yuk simak artikelnya!

Banting Setir dari Geografi ke Kebumian

Namanya Muhammad Eko Akbar Heriyanto, tetapi lebih akrab disapa Eko. Sejak SMP, Eko sudah mulai menekuni OSN bidang IPS. Sayangnya, saat itu ia tidak berhasil tembus sampai ke nasional. Meskipun demikian, Eko tetap tidak putus asa. Ia pun memberanikan diri ikut serta lomba cerdas cermat di Olimpiade Geografi Nasional X (OLGENAS) tahun 2015 yang diadakan oleh Universitas Gadjah Mada. Bersama timnya, Eko berhasil meraih Juara Harapan 1. Hal inilah yang membuat Eko semakin bersemangat menekuni olimpiade geografi di SMA nanti.

Tak disangka oleh Eko, rupanya ia tidak berjodoh dengan geografi ketika duduk di bangku SMA. Berdasarkan hasil seleksi olimpiade tingkat sekolahnya, guru-guru Eko justru menyarankan dirinya untuk memilih bidang kebumian. “Kata guruku, nilaiku bagus dan aku punya potensi di situ,” imbuh Eko.

Eko sempat menolak tawaran dari gurunya, bahkan sampai dua kali menolak. Namun, the third time is a charm—setelah tiga kali dibujuk, akhirnya Eko memutuskan untuk mengikuti saran gurunya.

Pesimis karena Sering Mendapat Nilai Terendah

Saat kelas 10, sekolah Eko mengharuskan tiap siswa untuk mematangkan persiapan materi terlebih dahulu selama setahun. Sembari menunggu Olimpiade Sains tingkat Kota berikutnya, Eko mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang dunia olimpiade dari teman maupun kakak kelasnya.

OSK tahun 2018 pun tiba. Eko sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya mendapat peringkat 1 OSK Salatiga. Bagaimana tidak? Dirinya kerap mendapat nilai yang tidak sesuai ekspektasi saat perlatihan olimpiade. Sama halnya dengan OSP, Eko juga berhasil lolos ke tingkat nasional.

Hal yang sama terjadi saat pelatda OSN yang diadakan Jawa Tengah. Nilai posttest Eko adalah yang terendah kala itu. Pesimis yang dirasakan Eko ini turut terbawa saat ia berlaga di OSN Kebumian 2018 yang diadakan di Padang, Sumatra Barat. Syukurlah, rasa pesimis itu tidak menghalangi Eko untuk mendapatkan medali.

“Nyangka nggak nyangka, sih, ternyata alhamdulillah aku dapet perunggu di OSN. Padahal tiap pelatihan nilaiku kan jelek. Pikirku, kok bisa gitu, ya,” ungkap Eko.

Perjuangan Penuh Lika-Liku saat Pelatnas

Eko dan teman-teman Tim Nasional IESO 2019
Sumber: Dokumentasi pribadi Muhammad Eko Akbar Heriyanto

Medali perunggu tersebut merupakan tiket awal bagi Eko untuk ikut IESO 2019 ke-13 yang rencananya akan dilaksanakan di Daegu, Korea Selatan. Eko pun kembali mengenang masa-masa pelatnasnya yang indah, seru, namun chaos

“Pelatnas, tuh… beuh tambah gila lagi,” kenang Eko sambil tertawa. “Tiap hari aku selalu menunggu kelas selesai karena aku menjalani pelatnas dengan penuh kebingungan (karena materinya). Aku juga dapet nilai terendah di beberapa pretest, jadi makin pesimis deh.”

Saat pelatnas 1, Eko masih sempat untuk ikut Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2018. Ketika memutuskan untuk ikut OPSI, Eko sudah tidak berharap banyak pada pelatnas. Namun, lagi-lagi tak diduga olehnya, nama Eko ada di pengumuman pelatnas 2. 

“Pelatnas 2, aku tambah bingung lagi. Anak-anaknya makin pinter dan ambisius semua. Kayaknya, aku cuma bejo di sana. Lagi-lagi pretest aku dapet terendah. Fix nggak lolos, sih, kali ini. Tapi, aku tetep jalani aja. Alhamdulillah lancar dan lolos ke pelatnas 3 meskipun harus mengorbankan nilai ujian sekolahku,” kata Eko.

Walaupun seringkali mendapat yang terendah, Eko tetap gigih bertahan dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik di pelatnas.

Akhir Kisah Olimpiade Eko

Eko (paling kanan) di IESO 2019
Sumber: Dokumentasi pribadi Muhammad Eko Akbar Heriyanto

Tim Olimpiade Kebumian Indonesia (TOIKI) ternyata memiliki tradisi untuk menyiram para siswa yang kelak menjadi timnas IESO. Ketika ditanya bagaimana perasaan Eko ketika disiram, ia menjawab “Malah aku kira yang disiram tuh yang nggak lolos.”

Tak terasa, IESO 2019 pun tiba. Eko harus merelakan hari pertamanya menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung kala itu karena hari itu bertepatan dengan diadakannya IESO. IESO sendiri memiliki serangkaian tes, yaitu written test, International Team Field Interrogation (ITFI), dan Earth Science Project (ESP). IESO juga memiliki kategori individu (Written Test) dan kategori tim (ITFI dan ESP).

Alhamdulillah, mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ini mendapatkan medali perunggu untuk kategori individu dan medali emas untuk kategori tim. Eko tak henti-hentinya mengucap syukur dan senang menjadi bagian dari keluarga kebumian ini.

“Olim itu seru. Bisa jalan-jalan, mencari uang, dapat temen, wawasan baru, dan jadi tahu cara pandang yang beda tiap orang gitu,” ungkap Eko ketika ditanya kesannya selama menggeluti olimpiade. “Pesan dariku, sih, jangan takut mencoba dan jangan mudah pesimis. Mungkin kalian hari ini nggak bisa, tapi belum tentu besok juga nggak bisa. Karena, yang bisa menentukan besok itu bukan kita. Kita cuma bisa menjalani hari ini,” tutupnya.

Wah, seru banget, ya, kisah teman kita yang satu ini? Sobat Ilumina bisa belajar dari Eko kalau gagal hari ini belum tentu gagal esok hari. Meskipun saat ini sedang dilanda pandemi, sobat-sobat jangan pernah malas dan menyerah untuk belajar, ya! Semangat meraih cita-cita di Kompetisi Sains Nasional berikutnya!

Penulis: Salma Zhahira M.S.
Editor: Athira Marsya Khairina

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!