Hari Ini:21 February, 2021

From Physics with Love: Kenal Lebih Dekat dengan Meilani Ayu Safira

Meilani Ayu Safira (bawah, paling kanan) berfoto bersama teman-teman satu sekolah sebelum pelaksanaan OSP SMA 2018 tingkat SMA
Sumber: Dokumentasi pribadi Meilani Ayu Safira

Halo, Sobat Ilumina! Bagaimana kabar kalian? Semoga kita semua selalu berada dalam keadaan sehat meskipun sedang dilanda pandemi Covid-19, ya. Selain itu, jangan lupa untuk stay safe dan stay at home!

Omong-omong, Ilumina telah kembali, lho! Pada artikel alumni Ilumina kali ini, kita akan mengenal seorang perempuan hebat bernama Meilani Ayu Safira atau yang biasa disapa Mei. Dia adalah peraih medali perak bidang Astronomi pada OSN tahun 2018. Luar biasa, kan? Lantas, bagaimana kisah perjuangannya dari awal hingga akhir? Yuk, kita simak kisah luar biasanya!

Mei pertama kali menggeluti dunia olimpiade pada tahun 2015 saat ia memasuki kelas 8 MTs. Mei yang saat itu bersekolah di MTsN 1 Lawang ditawari oleh gurunya untuk mengikuti sebuah kompetisi bernama Kompetisi Sains Madrasah (KSM). KSM bisa dikatakan setara dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN), tetapi khusus untuk siswa-siswi madrasah (pada zamannya). Mendapatkan tawaran yang baru pertama kali didengar olehnya saat itu, Mei tertarik untuk mengikutinya dan memilih fisika sebagai bidang yang akan ia hadapi. Kecintaannya yang dalam terhadap fisika serta anjuran dari gurunya berdasarkan bakat yang Mei miliki mendasarinya untuk memilih bidang tersebut.

Segera setelah menerima tawaran tersebut, Mei mulai melakukan persiapan dengan baik. Sebelum dilakukan pembinaan dari sekolah, Mei sudah memulai pembinaannya sendiri dengan mempelajari fisika secara otodidak. Setelah itu, saat sekolah mulai mengadakan pembinaan, Mei langsung mengikutinya dengan sangat baik. Alhasil, Mei berhasil lolos pada seleksi awal tingkat kabupaten sehingga ia mewakili Kabupaten Malang untuk seleksi tingkat provinsi. Selanjutnya, sama seperti saat menghadapi seleksi kabupaten, Mei juga mempersiapkan seleksi tingkat provinsi dengan baik. Kali ini, sekolah Mei mengadakan pembinaan dengan mengundang pembina dari luar sekolah. Mendapatkan kesempatan emas tersebut, tentu Mei tidak menyia-nyiakannya. Sayangnya, hasil yang diperoleh masih belum sesuai dengan harapan. Target provinsi hanya mengambil juara I untuk lolos ke tingkat nasional, sementara saat itu Mei masih belum bisa mendapatkan juara I. Mei pun gagal untuk melanjutkan ke seleksi tingkat nasional. Hasil tersebut tentunya membuat Mei kecewa dan sempat merasa down. Namun, di sisi lain, ia mendapatkan pelajaran berharga bahwa ia harus bisa melampiaskannya saat SMA nanti. Hal ini jugalah yang mendasari Mei untuk giat menekuni dunia olimpiade saat memasuki jenjang selanjutnya, yaitu SMA.

Dua tahun kemudian, saat Mei bersekolah di MAN 3 Malang (saat ini bernama MAN 2 Kota Malang), Mei memulai karier pertamanya di dunia OSN. Ini merupakan karier pertamanya karena saat di MTs, ia tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk ikut serta di OSN SMP akibat kebijakaan saat itu. Sama seperti sebelumnya, Mei memilih fisika sebagai bidang yang akan digelutinya. Persiapan Mei pun sama seperti yang dulu ia lakukan—ia tetap menerapkan belajar secara otodidak, baik sebelum maupun selama pembinaan dari sekolah diberikan. Namun, untuk kali ini, Mei mendapatkan kelebihan yang belum pernah dirasakannya selama di MTs, yaitu pembinaan intensif dari sekolah yang lebih giat lagi sehingga Mei memanfaatkan poin ini sebaik-baiknya.

Sayangnya, tahun pertama karier Mei di dunia OSN—yaitu tahun 2017—tidak semulus yang diharapkan. Mei saat itu masih belum ditakdirkan untuk lolos ke tingkat provinsi karena peringkat yang diperoleh masih di bawah target. Mendapatkan hasil yang lebih mengecewakan dari hasil yang Mei peroleh saat mengikuti KSM tentu membuat Mei lebih kecewa. Namun, dari hasil tersebut, Mei akhirnya merancang sebuah strategi baru.

Pada tahun kedua kariernya di dunia OSN, Mei memutuskan untuk banting setir menuju bidang astronomi. Keputusan Mei untuk mencoba hal yang baru didengarnya saat SMA didasari oleh prospek menjanjikannya yang masih berkaitan dengan dunia fisika. Tentu, menggeluti hal baru dalam waktu yang cukup singkat (karena Mei sudah memasuki kelas 11) adalah tantangan bagi Mei saat itu. Namun, karena astronomi ini masih memiliki hubungan yang erat dengan fisika, Mei bisa beradaptasi dengan cepat dan baik. Bahkan, Mei mengakui bahwa astronomi jauh lebih mudah daripada fisika. “Pertama, sih, aku membuat mindset kalau astronomi itu jauh lebih mudah daripada fisika. Ternyata, semakin hari, mindset itu memang benar-benar nyata,” kata Mei. Dalam belajar, Mei sangat terbantu dengan fisika karena sebagian besar materi astronomi merupakan turunan dari fisika. Maka, gaya belajar Mei ketika mempelajari astronomi pun kurang lebih sama dengan gaya belajarnya saat mempelajari fisika. Selebihnya, Mei tetap menerapkan gaya belajarnya yang dahulu. Dengan tekad, ketekunan, dan juga doa, alhasil tahun kedua karier Mei ini berakhir dengan indah—Mei berhasil meraih perak di bidang astronomi pada OSN 2018.

Meilani Ayu Safira (bawah, tiga dari kiri) berfoto bersama teman-teman satu sekolah pasca pengumuman pemenang OSN 2018 tingkat SMA.
Sumber: Dokumentasi pribadi Meilani Ayu Safira

Bagi Mei, terjun di dunia olimpiade memiliki suka dan dukanya masing-masing. “Sukanya, sih, aku bisa semangat sekolah karena punya target, bisa jalan-jalan, tidur di hotel, makan gratis, nemu temen dari sekolah lain, bisa banggain ortu, dan bisa dapat beasiswa. Kalau dukanya, ya… nyusul-nyusul ujian sekolah karena sering ninggalin kelas dan bakal hectic banget buat menyusul ketinggalan dalam persiapan utbk nanti,” kata Mei. Meskipun begitu, suka dan duka tersebut tetap Mei anggap sebagai hal yang biasa karena setiap anak olimpiade pasti merasakannya. Terakhir, Mei berpesan kepada teman-teman sekalian yang sekarang masih bergelut di dunia olimpiade untuk senantiasa bersemangat dalam mencapai impiannya meski sering jatuh bangun ketika menghadapinya. Jangan lupa pula untuk menyeimbangkan prestasi di olimpiade dengan kegiatan sosial di sekolah karena ini juga merupakan hal yang penting.

Omong-omong, apakah Mei telah benar-benar mengakhiri karier olimpiadenya saat memasuki kuliah? Ternyata tidak. Karena kecintaanya yang besar terhadap fisika, Mei yang saat ini merupakan mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret masih tetap menggeluti fisika, lho! Tercatat bahwa Mei sekarang ini telah menjadi salah satu wakil bagi universitasnya untuk berlomba di Olimpiade Nasional Matematika dan IPA (ONMIPA), di mana Mei mengambil fisika lagi sebagai bidang yang digelutinya. Hebat, kan? Jarang sekali ada anak kedokteran yang sekalinya ikut ONMIPA langsung mengambil fisika. Sayangnya, Mei masih belum bisa melanjutkan ke babak selanjutnya karena pandemi ini tidak memberikan kejelesan mengenai kelanjutan karier Mei di dunia ONMIPA.

Penulis: Rizky Maulana Hakim

Editor: Athira Marsya Khairina

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!