Hari Ini:19 May, 2021

“Usaha Enggak Akan Pernah Mengkhianati Hasil,” Kata Ivan Mahendra Si Medalis IESO

Photo shared by Muhammad Eko Akbar Heriyanto on October 27, 2018 tagging @ayodhya_ks, @athayaqj, @emanuelverrell, @davidantonius_, @imani_karina, @cahyanitiarasafitri, @akmalsiregar15, @naomiagnesct, @rrizqis, @baihaqi.ak, @skyaans, @amirulmuhammad_, @fauzanilmi26, @shanshanmsa, @yhuanditra, @handi2801, @ivan.mahendraa, @kihayusa, @wawan_tams, and @mag_net012. Image may contain: 28 people

Halo, Sobat Edufia! Kali ini, kita kedatangan alumni yang menginspirasi di bidang kebumian. Medalis Perak OSN Kebumian tahun 2018 ini juga mewakili Indonesia dan berhasil meraih perunggu di IESO tahun 2019 sekaligus perak untuk International Team Field Investigation (ITFI) dan perak untuk Earth Science Project (ESP). Kok bisa? Mau tahu? Yuk, kita simak!

Kenalan Pertama dengan OSN

Ivan Muhammad Mahendra, atau akrab dipanggil Ivan, baru mengenal OSN ketika sekolahnya, MAN Insan Cendekia Gorontalo, mengadakan seleksi tim untuk wakil di kabupaten. Pada saat itu, ia masih kelas 10 dan masih merasa asing ketika mendengar kata “OSN”. Setelah sosialisasi oleh guru dan kakak kelas yang menjadi alumni OSN tahun sebelumnya, setiap siswa dianjurkan untuk memilih satu dari sembilan bidang OSN. Kemudian siswa akan mengikuti rangkaian pembinaan awal sampai periode seleksi berakhir. Alhasil, dari sembilan bidang OSN, ia memilih bidang kebumian karena pesertanya yang paling sedikit kala itu.

“Awalnya enggak ada niat sama sekali buat maju ke OSN. Terus, pas mau tes awal itu dikasih buku, ya udah gua baca-baca dikit, tuh. Setelah dibaca-baca ternyata seru. Kebumian, tuh, lo baca teorinya, terus ngamatin alam sekitar ternyata benar terbukti,” tutur siswa kelahiran Jakarta ini. “Lama kelamaan, interesting buat baca sampai jauh dan akhirnya kebaca terus tuh buku kebumiannya.”

Ketertarikan Ivan pada kebumian membawanya lolos seleksi tim sekolah dan lanjut ke tingkat OSK di tahun 2017. Sebelum OSK, Ivan belum mendapat izin orangtuanya untuk melanjutkan perjuangan di dunia olimpiade karena tuntutan akademik di sekolahnya yang dirasa cukup berat. “Orangtua gua tuh lebih concern ke akademik karena ortu gua tahu di sana dapat nilai susah, kan, di akademik,” tutur Ivan. Namun, ia terus berusaha untuk meyakinkan orangtua bahwa ia akan berjuang di akademik dan olimpiade juga karena menurutnya restu orangtua penting untuk kesuksesannya berjuang di olimpiade. Pada akhirnya, ia diizinkan untuk melanjutkan perjuangannya di OSK walau perjuangannya harus tertunda di tingkat OSP.

Tekad yang Lebih Kuat

Kegagalannya di OSP tahun sebelumnya tidak membuat Ivan patah semangat. Yang terjadi justru sebaliknya. Dukungan orangtua, teman, dan guru menjadi suplemen tambahan bagi tekadnya untuk lolos ke OSN pada tahun 2018. Terlebih lagi dukungan dari kakak kelas dan alumni di bidang kebumian yang berhasil mendapatkan medali di IESO membuatnya semakin menyukai bidang kebumian.

Pada tahun kedua perjuangannya Ivan, tantangan terberat yang dialaminya yaitu kesulitan mengimbangi akademik dan olimpiade. Bidang yang tidak ada dalam mata pelajaran akademik pada umumnya menuntut Ivan untuk menyisihkan waktu istirahatnya untuk mendalami materi bidang yang disukainya itu.

“Sampe jam 10 malam, kan, gua belajar akademik. Pas udah jam 10, gua tutup buku akademik, baru buka buku olim. Jadi, gua belajar olim tuh setelah jam 10 itu sampe sekuatnya, sengantuk-ngantuknya,” tutur Ivan. “Tetapi pada akhirnya akademik gua tetep turun. Untung alhamdulillah olimnya maju terus, nih. Jadi, worth it lah seenggaknya gua ada sesuatu yang didapet.”

Perjuangannya berlanjut sampai ke tingkat OSN. Sepekan sebelum OSN tiba, ia sempat jatuh sakit ketika sedang mengikuti pelatihan yang didukung sekolahnya di Bandung saat itu. Namun, tantangan dan ujian yang dihadapinya selama perjalanan sampai OSN membuahkan hasil. Medali perak pada OSN 2018 di Padang, Sumatera Barat, menjawab lelahnya perjuangan yang telah ia lewati dan besarnya pengorbanan yang ia relakan. Tidak sampai di situ saja, keberhasilannya di OSN bukan menjadi akhir perjuangannya justru menjadi awal perjuangannya menuju IESO 2019.

Dilema Pelatnas

Berkat keberhasilannya di OSN, Ivan mendapat kesempatan untuk mengikuti Pelatnas 1. Di sisi lain, ia harus fokus mempersiapkan diri untuk berbagai macam ujian akhir mengingat dirinya yang telah mencapai tingkat akhir di Madrasah Aliyah. Setelah diskusi dengan orangtua, guru, dan teman-temannya ia memutuskan untuk mengambil kesempatan Pelatnas yang tidak didapatkan oleh semua orang.

Ketertinggalan Ivan di sekolah berdampak pada turunnya prestasi akademiknya. Hal ini merupakan konsekuensi yang sulit untuk diterima oleh sang medalis. Namun, kegagalan di SNMPTN justru semakin menguatkan tekadnya untuk melanjutkan perjuangan di Pelatnas 3.

Dilema pun kembali terjadi setelah ia baru saja lulus dari Madrasah Aliyah dan harus berjuang di SBMPTN melalui UTBK. Bersamaan dengan itu, ia harus melanjutkan perjuangannya di Pelatnas 3.

Gua udah lolos P3 nih, udah sembilan orang, yang lolos ke IESO kan empat. Gua jadi bingun,g tuh, mau persiapin UTBK atau IESO. Sampai akhirnya, gua ngorbanin UTBK. Jadi gua enggak ikut UTBK tuh yang kedua demi Pelatnas 3. Jadi, kayak ada satu yang dikorbanin dan ada satu yang diperjuangin,” tutur si penikmat K-pop. Ya, ia mengakui bahwa salah satu motivasi terbesarnya untuk melanjutkan perjuangan di IESO karena pelaksanannya di Daegu, Korea Selatan.

Pengorbanan yang direlakan berhasil mengantarkan Ivan mewakili Indonesia di IESO. Selain itu, ia juga mendapat kesempatan masuk UGM melalui jalur prestasi, kampus yang diimpikannya sejak dahulu. Banyak hal yang ia dapat dari IESO, salah satunya persahabatan dengan para kontingen di negara lain. Ia juga mengakui bahwa dua perak yang disumbangkan untuk Indonesia juga dihasilkan oleh kerja sama tim antarnegara yang sangat baik.

Gimana? Hebat banget, kan? Berbagai masalah yang ia hadapi mampu diatasinya walaupun terkadang perlu pengorbanan. Ia selalu percaya bahwa semua akan indah pada akhirnya.

Usaha enggak akan pernah menghianati hasil. Kalimat itu yang gua pegang saat berjuang di OSN. Pas males belajar pun, kalo menghayati kalimat itu, gua yakin pasti ada sesuatu yang menanti kalo gua usaha maksimal, entah apa pun itu bentuknya. Jadi, gua udah maksimal di akademik dan OSN, tapi gua failed di SNMPTN, di sisi lain gua bisa sampe IESO, padahal saat itu target cuma medal OSN. Jadi, pada akhirnya bakalan tetep ada hasilnya apapun usaha lo.”

Ivan Muhammad Mahendra, 2020

Penulis: Chandra Halim Nuruddin
Editor: Athira Marsya Khairina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!