Hari Ini:14 April, 2021

Meski Sempat Sakit, Hilmi Nuruzzaman Mampu Berlaga Hingga Menjadi Medalis Perak IOAA 2019

“Jangan biarkan orang lain merusak mimpimu, yang dapat merusaknya hanya pikiranmu sendiri.”
– Hilmi, 2020

Halo, Sobat Edufia! Kali ini, kita akan berkenalan dengan seorang medalis bidang Astronomi. Selain mendapatkan medali emas di OSN 2018, ia juga menyumbang medali perak untuk Indonesia melalui IOAA 2019, lho! Ternyata, di balik prestasi yang hebat, terdapat sepak terjangnya yang cukup rumit dan menginspirasi. Ingin tahu, kan? Yuk, langsung aja kita bahas!

Menyukai Astronomi Sejak Kecil

Hilmi Nuruzzaman, atau yang kerap disapa Hilmi, senang menghabiskan sebagian besar waktu belajarnya untuk mempelajari Astronomi. Tak heran, ternyata ia telah menyimpan ketertarikan terhadap Astronomi sejak ia masih kecil.

“Jadi, dari kecil gua emang udah demen sama Astronomi, cerita-cerita tentang planet gitu,” ungkap siswa kelahiran Madiun ini. “Gua pernah baca buku tentang Astronomi. Asyik, ternyata. Keren aja ngeliatin gambar planet yang bagus-bagus walaupun ternyata Astronomi olim beda sama Astronomi yang gua liat waktu kecil.”

Suatu saat, Hilmi diberitahu oleh temannya bahwa di SMA ia bisa mengikuti olimpiade Astronomi. Mendengarnya, Hilmi merasa tertantang untuk terjun ke dalam dunia olimpiade Astronomi.

Sayangnya, bidang Astronomi untuk tingkat SMP kala itu dihapuskan. Hilmi pun mencoba untuk mengikuti OSK SMP di bidang Matematika (kelas 7) dan IPA (kelas 8). Namun, karena kurangnya persiapan dalam menghadapi OSK, ia tidak berhasil lolos menuju tingkat provinsi.

Akhirnya, saat Hilmi duduk di bangku Madrasah Aliyah, ia mendaftarkan dirinya ke dalam klub bidang studi Astronomi yang terdapat di sekolahnya, MAN Insan Cendekia Serpong. Selain memang menyukai bidang Astronomi, ia juga terinspirasi oleh kakak kelasnya yang sebelumnya berhasil mendapatkan medali di IOAA. Persiapan yang ia lakukan untuk menghadapi OSK SMA pun jauh lebih matang dibanding saat ia SMP. Untuk menghadapi OSK 2018, ia menyelesaikan ‘buku sakti’ anak Astronomi di semester pertama. Hilmi pun berhasil lolos OSK dengan bantuan pelatihan-pelatihan yang ia dapatkan dari sekolah.

Diinfus saat OSP

Ketika ajang OSP 2018 telah dekat, Hilmi terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, tentunya ia tidak ingin menyerah begitu saja karena penyakitnya. OSP ini adalah OSP pertama Hilmi dan akan sangat disayangkan jika ia tidak mengikutinya. Akhirnya, Hilmi meminta izin dari dokternya untuk bisa mengikuti OSP. Ia diizinkan, tetapi dalam keadaan diinfus.

Hilmi mengaku bahwa infusnya memberi ketidaknyamanan selama ia mengerjakan soal. Selain itu, karena penyakitnya, ia tidak sempat refreshing sebelum OSP dan alhasil merasa tidak tenang saat mengerjakan soal.

Sebelum ujian dimulai, Hilmi merasa optimis bisa lolos ke OSN. Namun, setelah selesai mengerjakan soal, ia merasa bahwa setidaknya ia sudah mencoba.

Ternyata, DBD yang diderita Hilmi tidak menghalanginya untuk menuju tingkat nasional dan meraih medali emas pertama, alias Absolute Winner. Hilmi sama sekali tidak menyangka dirinya bisa mendapatkan medali emas. “Pas teori gua panik, gugup ngerjain soalnya. Ada salah satu soal yang mirip soal OSN sebelumnya, dan gua lupa cara ngerjainnya,” ujarnya. “Tapi pas prakteknya santai parah, ngerjainnya jadi lebih lancar.”

Sempat Pesimis saat Pelatnas

Berbekal gelar Absolute Winner-nya, Hilmi merasa optimis di awal pelatnas. Namun, setelah melihat teman-teman pelatnas lainnya yang ambisius, Hilmi menjadi sedikit takut. Hilmi sempat panik karena ia lupa beberapa rasi bintang ketika tes praktik. Selain itu, nilai pretest-nya juga kurang memuaskan sehingga saat itu ia hanya bisa berharap dari nilai teori dan analisis data.

Walaupun ia tidak yakin, ternyata Hilmi pun lolos ke Pelatnas tahap 2. Untuk P2, ia memutuskan untuk tidak memaksakan dirinya lolos menjadi timnas Indonesia. Ternyata, pola pikir tersebut membuatnya lebih tenang dalam mengerjakan soal. Ia pun menyelesaikan tes-tesnya dengan lebih lancar hingga akhirnya, jerih payah Hilmi menjadikannya salah satu duta Indonesia di IOAA 2019.

Ketika ditanya mengenai targetnya di IOAA, Hilmi menjawab, “Gua selalu masang target emas, tapi gua enggak selalu maksain buat mencapai target. Biar enggak tertekan, hanya jadi motivasi.”

Saat menjalani Pelatnas tahap 4, Hilmi sempat merasa tertekan. Ia merasa teman-temannya yang lain lebih rajin daripada dirinya. “Tapi, kalau bukan soal Astronomi, gua paling semangat. Contohnya waktu makan,” gurau Hilmi.

Hilmi di IOAA 2019

Medali Perak Urutan 23

Selama IOAA berlangsung, Hilmi mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik saat mengerjakan soal. Ia menemui beberapa kesulitan saat tes analisis data dan merasa soal yang dikerjakannya sangat susah. Saat observasi, Hilmi kesulitan untuk tetap fokus karena hawa dingin yang ia rasakan. “Tapi, karena gua secara ajaib jago pakai teleskopnya, gua jadi agak tenang walaupun jagonya datengnya telat,” ujar Hilmi. Selain itu, di IOAA 2019, terdapat ronde Planetarium yang membuat Hilmi terkejut karena ini merupakan hal baru baginya.

Hilmi tidak berharap banyak saat pembagian medali. Baginya, yang terpenting adalah Indonesia mendapatkan sesuatu. Lagi pula, ia telah mendapatkan medali perunggu untuk team competition. Maka, ketika nama Hilmi akhirnya dibacakan pada peraih medali perak ke-23, ia merasa kaget, senang, dan bersyukur. Ia juga mengapresiasi kerja keras yang telah dilakukannya selama ini.

Hilmi berencana untuk melanjutkan studinya di Institut Teknologi Bandung, tempat yang sama dengan tempat ia menempuh berbagai tahapan Pelatnas yang mengantarkannya menggapai mimpinya itu. Saat ini, Hilmi telah diterima sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB melalui jalur SNMPTN, loh!

Gimana? Keren ga sih sepak terjang Hilmi untuk meraih medali? Hal ini membuktikan bahwa diperlukan usaha untuk bisa mendapatkan yang kita inginkan. Serta, jangan panik dalam menghadapi ujian. Jika kita tenang, akan lebih mudah dalam mengerjakannya.

Untuk sobat Edufia yang juga ingin berprestasi di bidang Astronomi, Hilmi punya saran untuk kalian. “Astronomi itu memang rumit, tapi selama kalian punya niat, kalian pasti bisa menaklukkannya,” pesan Hilmi.

Penulis: Maritza Andreanne Rafa Ayusha
Editor: Athira Marsya Khairina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Dapatkan Akses Artikel Exclusive Lebih Dulu

Mari bergabung bersama ribuan pembaca Ilumina dengan mendaftarkan alamat email kamu. Ssst.. Gratis, hanya buat kamu!

Langkah yang tepat! Kamu telah membuka jendela untuk melihat dunia dengan lebih baik!